Sebagian besar nasib mereka sekarang menyedihkan. Sewaktu masih SD, saya sering dibully secara fisik oleh teman-teman cowok di sana. Sekolah ini bagaikan neraka bagi saya. Rasanya seperti penduduk surga yang salah tempat.
Sekolah ini dulunya aneh. Yang cewek banyak keganjenan. Mereka suka payudaranya dipegang-pegang oleh lelaki. Bahkan selalu tersenyum nakal saat lelaki melakukan itu. Parahnya lagi, itu dilakukan di dalam kelas di depan guru. Guru diam saja. Waktu itu saya tidak mengerti apa namanya ini. Saya begitu polos. Nasib dari teman cewek di kelas saya sekarang adalah sebagian besar dari mereka tidak kuliah. Hidupnya susah, sehingga banyak yang menjadikan nikah muda sebagai pelarian beban hidup.
Sedangkan teman cowok di sini adalah lelaki yang bangga dengan kehebatannya menindas pejantan lain. Mereka bangga saat bisa berkelahi dan menunjukkan bahwa dirinya lebih berkuasa. Mirip seperti film Crows Zero. Di sini sering terjadi perkelahian hingga berdarah-darah hanya karena masalah sepele. Saya sering mendengar cerita mereka bahwa mereka pernah menghajar si anu dan menang dalam pertarungan. Benar-benar hukum rimba!
Sekolah ini juga pernah tawuran dengan SD lain. Selain karena fisik saya paling kecil di kelas, saya tidak ikut-ikutan tawuran karena berpikir itu tidak ada manfaatnya. Saya juga berpikir, kalau gigi asli saya patah karena berkelahi akibatnya akan sangat fatal. Saya bisa menjadi cowok ompong dan jelek. Sehingga tidak memiliki penampilan yang menarik lagi nantinya.
Kelas saya penuh dengan orang bodoh yang selalu tinggal kelas. Sehingga saya selalu bertemu dengan orang yang badannya tinggi & besar. Walaupun saya selalu juara di sini, tapi tidak ada kebanggaan karena menjadi juara di antara orang dungu itu bukanlah prestasi.
Kamu bisa mengatakan bahwa cowok di SD saya adalah Yakjuj dan Makjuj. Mereka menghancurkan semua yang mereka sentuh. Ketika guru membeli bunga, mereka menjadikan potnya sebagai bola. Saat ada teman yang punya sepeda, mereka melakukan pemaksaan dan memakai sepedanya hingga rusak. Saat keadaan sepi, uang dalam tas sering hilang. Saat ada bola tenis, permainan ekstrem pun dimulai dengan saling lempar-melempar bola hingga kaca di jendela pecah. Saat ada yang berak di WC, pintunya akan didobrak hingga grendelnya rusak. Saat ada yang bawa uang jajan banyak, uangnya akan dirampas. Saat rol dipinjam, kembalinya akan bengkok-bengkok. Guru pun sudah kewalahan menghadapi murid seperti mereka.
Saya sering diancam teman cowok di kelas agar saya mau memberikan contekan sewaktu ulangan. Jika saya tidak mau, mereka akan menghajar saya sepulang sekolah. Saya sering menangis selama sekolah di sini. Kepala saya pernah diludahi. Saya pernah dipermalukan. Tapi saya tidak mau cerita pada orang tua karena saya takut mereka akan menyebut saya cengeng dan pengadu selama-lamanya. Saya tidak punya kemampuan untuk melawan karena fisik mereka tinggi dan besar. Entah kenapa saya bisa terjebak di sekolah ini. Bahkan tetangga kelurahan pun menyebut sekolah ini sangat kacau.
Waktu itu saya hanya bisa berdoa. Saya sering berdoa sesudah sholat. Saya berharap agar perbuatan mereka diberikan balasan oleh Tuhan. Ketika saya berdoa si anu agar tinggal kelas, maka tahun depan memang dia tinggal kelas. Ketika saya berdoa agar si anu hidupnya hancur, maka inilah jawaban dari pertanyaan ini:
- Satu orang sukses menghamili 3 anak gadis di luar nikah.
- Satu orang kuliah di kepolisian dengan jalur suap-menyuap.
- Satu orang sekolahnya tidak pernah selesai sampai SMA.
- Dua orang masuk penjara karena kasus pencurian.
- Sebagian besar menjadi buruh dan kuli yang gajinya pas-pasan.
Saya tidak bisa menceritakan semuanya karena banyak yang merantau, sehingga saya sedikit sekali mendengar kabar mereka. Sekarang ketika mereka bertemu dengan saya, semuanya sudah seperti biasa. Saya tidak memikirkan lagi masa lalunya karena mereka sudah mendapat ganjaran masing-masing. Balasan dari Tuhan memang pedih. Mereka mungkin lupa bahwa doa orang yang teraniaya itu makbul. Saya punya firasat kalau kesulitan hidup mereka akan bertahan lama hingga mereka berusia 50 tahun. Saya bisa melihat itu karena pola pikir mereka sampai sekarang masih belum berubah. Hanya karena kenakalan mereka selama 4 tahun, hidup mereka sengsara 40 tahun ke depan.
Dari sekian banyak teman cowok saya di SD dulu, hanya satu orang yang saya tahu sampai kuliah. Dia adalah teman baik saya. Kami senasib. Bertubuh kecil, baik, tidak nakal, dan sering ditindas.
Sekarang, SD saya dahulu menjadi lebih baik sejak pergantian kepala sekolah. Bangunannya direnovasi. Peraturan menjadi lebih baik dan ketat. Murid yang bodoh HQQ dan nakal seperti teman saya dulu akan ditendang dari sini. Tidak ada lagi murid yang menyampah di sini. Sekolah ini menjadi salah satu SD favorit di daerah saya.
Oh ya, saya lupa. Salah satu kebodohan HQQ yang dilakukan teman cowok saya adalah onani di kelas. Dia tidak malu memperlihatkan barangnya pada cewek. Cairannya sampai mengenai meja saya. Saya sontak ingin mengganti kursi dan meja yang sudah basah. Hahaha…
Comments
Post a Comment