Adalah fakta bahwa tidak banyak perusahaan AS yang meninggalkan Tiongkok. Memang ada yang relokasi namun itu industri mainan anak-anak dan industri foot-wear tapi ini termasuk jenis industri yang memang sengaja difasilitasi oleh pemerintah Tiongkok untuk relokasi keluar Tiongkok sejak 3 tahun yl jadi penyebabnya bukan karena Trump. Sedangkan industri yang masuk kategori high technology tetap ditempat.
Trump dan tim penasehatnya benar-benar payah dan naif sekali dalam memahami ekonomi, perdagangan internasional, industri dan bisnis di abad 21 ini, misalnya, kebijakan untuk menekan Tiongkok dengan tarif. Kebijakan itu jelas menunjukan ketidak pahamannya atas iklim perdagangan internasional abad 21. Konsep mereka masih "keenakan nongkrong" di perdagangan internasional abad 17 - 18 yaitu merkantilisme, yang jelas tidak relevan lagi bagi abad 21.
Selanjutnya, kebijakannya meminta perusahaan AS untuk keluar dari Tiongkok dan kembali ke AS. Bagi sebuah rejim politik adi kuasa merumuskan kebijakan semacam ini sungguh amat memalukan. Sekalipun ini diikuti dengan banjir informasi palsu bahwa perusahaan AS berbondong-bondong keluar Tiongkok, relokasi ke negara lain.
Kebijakan-kebijakan semacam ini menunjukkan kepada dunia bahwa AS adalah adi kuasa dengan out-dated mindset, yang tidak cocok lagi dengan situasi abad 21; inilah penyebab utama mundurnya AS sebagai adi kuasa. Jadi bukan karena kebangkitan Tiongkok tetapi problem terletak pada diri AS sendiri yang kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan geo-politik abad 21.
Bagi mereka yang paham atau berkecimpung di dunia bisnis dan industri, pasti langsung tidak percaya atau bahkan tertawa terbahak-bahak dengan berita sampah politisi dan media Barat bahwa industri AS berbondong-bondong relokasi industri ke negara lain. Oleh karena:
Satu. Industri tidak bisa begitu saja pindah. Memangnya anak kos? tinggal packing, nenteng koper lalu pindah begitu saja?? Proses pemindahan industri itu rumit dan kompleks dan selalu gradual, step by step, mungkin butuh 4 - 5 tahun jika cepat, bisa lebih lama lagi, namun persiapannya sejak dinipun sudah dimulai. Jika memang terjadi relokasi dari Tiongkok maka sejak hari inipun sudah ada persiapan untuk pindah. Apakah ada buktinya?
Data dan bukti sangat mudah diperoleh asalkan kita mau berupaya dan berpikir. US-China Business Council (UCBC) sebuah lembaga non profit yang mempromosikan peningkatan perdagangan dan investasi AS di Tiongkok adalah sumber data yang terbaik. UCBC tegas mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa ada persiapan pindah oleh perusahaan AS di Tiongkok (Krystal Hu. " No Evidence American Companies Are Leaving China: US -
Adalah fakta bahwa tidak banyak perusahaan AS yang meninggalkan Tiongkok. Memang ada yang relokasi namun itu industri mainan anak-anak dan industri foot-wear tapi ini termasuk jenis industri yang memang sengaja difasilitasi oleh pemerintah Tiongkok untuk relokasi keluar Tiongkok sejak 3 tahun yl jadi penyebabnya bukan karena Trump. Sedangkan industri yang masuk kategori high technology tetap ditempat.
Trump dan tim penasehatnya benar-benar payah dan naif sekali dalam memahami ekonomi, perdagangan internasional, industri dan bisnis di abad 21 ini, misalnya, kebijakan untuk menekan Tiongkok dengan tarif. Kebijakan itu jelas menunjukan ketidak pahamannya atas iklim perdagangan internasional abad 21. Konsep mereka masih "keenakan nongkrong" di perdagangan internasional abad 17 - 18 yaitu merkantilisme, yang jelas tidak relevan lagi bagi abad 21.
Selanjutnya, kebijakannya meminta perusahaan AS untuk keluar dari Tiongkok dan kembali ke AS. Bagi sebuah rejim politik adi kuasa merumuskan kebijakan semacam ini sungguh amat memalukan. Sekalipun ini diikuti dengan banjir informasi palsu bahwa perusahaan AS berbondong-bondong keluar Tiongkok, relokasi ke negara lain.
Kebijakan-kebijakan semacam ini menunjukkan kepada dunia bahwa AS adalah adi kuasa dengan out-dated mindset, yang tidak cocok lagi dengan situasi abad 21; inilah penyebab utama mundurnya AS sebagai adi kuasa. Jadi bukan karena kebangkitan Tiongkok tetapi problem terletak pada diri AS sendiri yang kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan geo-politik abad 21.
Bagi mereka yang paham atau berkecimpung di dunia bisnis dan industri, pasti langsung tidak percaya atau bahkan tertawa terbahak-bahak dengan berita sampah politisi dan media Barat bahwa industri AS berbondong-bondong relokasi industri ke negara lain. Oleh karena:
Satu. Industri tidak bisa begitu saja pindah. Memangnya anak kos? tinggal packing, nenteng koper lalu pindah begitu saja?? Proses pemindahan industri itu rumit dan kompleks dan selalu gradual, step by step, mungkin butuh 4 - 5 tahun jika cepat, bisa lebih lama lagi, namun persiapannya sejak dinipun sudah dimulai. Jika memang terjadi relokasi dari Tiongkok maka sejak hari inipun sudah ada persiapan untuk pindah. Apakah ada buktinya?
Data dan bukti sangat mudah diperoleh asalkan kita mau berupaya dan berpikir. US-China Business Council (UCBC) sebuah lembaga non profit yang mempromosikan peningkatan perdagangan dan investasi AS di Tiongkok adalah sumber data yang terbaik. UCBC tegas mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa ada persiapan pindah oleh perusahaan AS di Tiongkok (Krystal Hu. " No Evidence American Companies Are Leaving China: US - China Business Council." Yahoo Finance, August 30, 2019).
Dua. Relokasi industri selalu terkait dengan situasi sosial-politik yang tidak kondusif, sebagai contoh kerusuhan Mei 1998 yl dimana bisnis dan industri keturunan/etnis Tionghoa dijarah dan dibakar. Ini mendorong terjadinya relokasi industri dan bisnis dalam jumlah yang besar. Hal lain adalah iklim industri yang tidak kondusif, biasanya terkait diskriminasi, peraturan/kebijakan pemerintah yang anti bisnis, dsb.
Perusahaan AS di Tiongkok tidak mengalami itu semua. Terlepas dari ketegangan politik dengan AS, pemerintah dan masyarakat Tiongkok tetap mempertahankan iklim bisnis dan investasi yang kondusif. Mereka - para pebisnis dan investor AS - tetap aman tidak diganggu, tidak ada tekanan politik, tidak ada kerusuhan ataupun hujatan kepada mereka sebagai orang AS sehingga iklim investasi serta bisnis tetap kondusif.
Selain itu para pebisnis dan investor AS tergantung pada pasar Tiongkok yang daya belinya bagus. Misalnya, General Motors jika relokasi keluar Tiongkok akan kehilangan sekitar 45% dari pangsa pasarnya, ini berarti multi milyar US$ akan lenyap begitu saja (Jamie LaReau. "Trump Would Cost General Motors Billions if He Actually Orders Business Out of China." USA Today, August 9, 2019).
Singkat kata tidak ada alasan yang kuat bagi pebisnis dan investor AS untuk keluar dari Tiongkok. Jika dikaitkan dengan tarif maka alasannya menjadi lebih tidak masuk akal. Oleh karena kebijakan pemerintah Tiongkok untuk devaluasi Yuan sudah sangat jitu mementahkan seluruh kebijakan tarifnya Trump.
Sebelum melangkah lebih lanjut, perlu saya tegaskan bahwa memang ada relokasi industri Tiongkok yang prosesnya sudah dimulai 3 - 4 tahun yl. Proses ini difasilitasi pemerintah Tiongkok sendiri. Tiongkok merelokasi semua industri yang low technology seperti mainan anak-anak, rokok, garment, sepatu, tekstil, topi, bulu mata, rambut palsu, asesories, dsb ke negara-negara sahabat Tiongkok yi negara-negara Afrika, negara-negara di Asia Tengah, Thailand, Vietnam, Kampuchea, Myanmar dan Malaysia.
Tujuan utama yang akan dicapai adalah meningkatkan ekonomi negara sahabat, memenuhi target program Belt and Road Initiatives, memperluas pangsa pasar bagi produk-produk Tiongkok dan ini yang terpenting, transformasi ekonomi dan industri dalam negeri Tiongkok menuju perekonomian dengan high-tech industry seperti IT/IT programs, Artificial Intellegence, bio technology, peralatan medis, aerospace, mobil listrik, industri enerji terbarukan dan peralatan dan jasa bisnis. Dengan langkah ini maka Tiongkok akan meraup keuntungan berkali-kali lipat; jauh lebih besar dibandingkan dengan bermain di low technology sector. Dimasa depan tentunya Tiongkok akan jauh lebih kaya lagi.
Kembali ke pertanyaan diatas, bagi para pengambil kebijakan dan politisi yang sok bermoral tinggi selalu menuduh bahwa kerakusan pengusaha yang non nasionalis lah penyebab utama larinya industri ke Tiongkok. Jelas cara berpikir yang irasional semacam ini tidak akan membuat kita semua menjadi bangsa yang cerdas. Apa yang seharusnya mereka lakukan adalah studi dan memahami problema industri sehingga bisa menyentuh permasalahan yang terjadi.
Steve Jobb pada saat makan siang bersama Obama. Menjawab Obama yang bertanya mengapa relokasi ke Tiongkok, kok tidak di AS saja? Steve Jobb tegas mengemukakan bahwa sulit bagi AS untuk bersaing dengan Tiongkok dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi industri. Perhatikan jawab Steve Jobb, iklim industri yang kondusif, apa maksudnya?
Studi yang dilakukan Duhigg dan Bradsher menjawab pertanyaan ini. Duhigg dan Bradsher mengambil Apple sebagai studi kasus dan menemukan jawab mengapa Apple memilih Tiongkok daripada negara lain, termasuk AS sendiri, alasannya sebagai berikut: Kebijakan industri Tiongkok sangat mendasar dan menyentuh langsung kebutuhan membangun sebuah industri yang kompetitif, berkualitas tinggi dengan biaya yang sangat ekonomis. Bahkan Steve Jobbs sendiri menegaskan bahwa hanya di Tiongkok, kita bisa dapatkan kualitas yang prima semacam ini dengan harga yang ekonomis. Sebagai contoh, tempered glass yang digunakan iPhone. Ada banyak industri tempered glass di dunia ini tapi semuanya tidak bisa memenuhi standar Apple. Hanya ada satu yaitu industri yang memenuhi kriteria Apple yi industri tempered glass milik pengusaha Tiongkok di Shenzhen yang hasil produksinya prima dengan harga yang sangat ekonomis dibandingkan produksi dari negara lain.
Inilah yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok untuk menjadikan Tiongkok, "the most eficient with the best facilities factory of the world." Menurut Duhigg dan Bradsher berdasarkan studinya dengan studi kasus Apple:
1.Supply Chain. Begitu Apple mendirikan pabrik dilokasi yang tersedia maka seluruh pemasok industri Apple sudah tersedia "didepan pintu," artinya, semua tersedia dan Apple tidak perlu kesana kemari untuk mendapatkan pasokan. Semuanya tersedia ditempat, dengan kualitas yang memenuhi standar sehingga Apple dan tidak perlu kehilangan ongkos kirim atau biaya impor yang pasti akan menaikkan biaya produksi. Fasilitas semacam ini sulit ditemui di negara lain.
2. Tenaga Kerja Trampil. Tenaga kerja Tiongkok memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi. Bukan hanya pengetahuan, ketrampilan dan pekerja keras tetapi juga sangat flexible. Jika terjadi penggantian model misalnya perusahaan tidak perlu memikirkan pelatihan yang banyak membutuhkan dana dan waktu. Para pekerja tsb cukup diberikan pengenalan teknis dari produk tsb dan mereka bisa membuatnya sesuai standar yang ada.
Pada saat Apple membuka pabriknya di Tiongkok. Apple membutuhkan 23,000 pekerja dan hanya dalam waktu kurang dari 2 hari kebutuhan tsb terpenuhi dengan pekerja yang memenuhi standar dan mereka hanya membutuhkan 1–2 sesi untuk pengenalan produk dan standar tuntutan kerja untuk memulai pekerjaan. Setelah memasuki kerja, tingkat pengetahuan dan ketrampilan kerja mereka sangat tinggi sehingga tingkat kesalahan kerja mereka kurang dari 0.5%, ini tingkat ketrampilan yang benar-benar sempurna.
3. Dukungan Fasilitas. Dukungan pemerintah dalam menyediakan fasilitas sangat prima. Selain birokrasi yang cepat dan bebas biaya, kepastian hukum dan pelatihan tenaga kerja. Pemerintah Tiongkok juga memfasitasi infrastruktur yang lengkap, mulai dari jalan, listrik, air dan internet; semuanya dipasang langsung ke lokasi tanpa biaya. Biaya pemakaianpun sangat murah. Termasuk asrama bagi para pekerja sehingga para pekerja tinggal tidak jauh dari lokasi pabrik dan perusahaan tidak perlu kehilangan transport untuk antar dan jemput. Untuk pengiriman barang ekspor pun murah dan cepat karena pelabuhan dan land port bekerja 24 jam.
4. Stabilitas Sosial Politik. Setiap investor dan pebisnis pasti menaruh perhatian serius pada masalah ini. Oleh karena kegaduhan politik, konflik sosial dan agama, dsb selalu memberikan kesan negatif yaitu ketidak pastian atas masa depan. Masyarakat Tiongkok sangat stabil tidak mengenal kerusuhan, konflik antar suku dan agama, dan kegaduhan politik.
Konflik hanya terisolasi di Xinjiang yang berupa pemboman, penusukan, penembakan pada kerumunan massa oleh alumni ISIS. Pihak keamanan Tiongkok sukses mengisolasi pada beberapa area di Xinjiang saja.
Fasilitas industri yang lengkap semacam ini menyebabkan biaya produksi murah sehingga harga produk menjadi kompetitif/bersaing. Bayangkan jika industri tsb pindah ke Indonesia. Memang harga tanah dan buruh murah tapi pengusaha tsb mesti memikirkan beli trafo sendiri untuk pasang listrik, bayar instalasi air dan internet, buat jalan sendiri, beli bus untuk antar & jemput karyawan, harus impor bahan baku dan mesti susah payah kirim barang ke pelabuhan akibat lalu lintas macet atau pelabuhan libur karena hari besar. Mesti punya generator untuk cadangan karena listrik byar-pet. Akibatnya, biaya produksi membengkak tinggi.
Singkat kata, apa yang dilakukan pemerintah Tiongkok adalah dengan cerdik memanfaatkan kelemahan sistem kapitalisme global dengan strategi transaksional untuk merebut modal dan teknologi. Jelas ini bukan " mencuri teknologi" atau "memaksa alih teknologi" seperti tuduhan naif Trump, yang juga diyakini oleh para China Hatters dan mereka yang secara membabi buta mendukungnya.
Mengapa? Oleh karena para pengusaha itu sadar dan rela dilakukan alih teknologi dengan imbalan fasilitas dan prospek laba yang melimpah, misalnya saja, marjin laba Apple adalah 40% untuk tiap unit iPhone yang anda beli. Ingat juga bahwa tidak ada pistol yang ditodongkan dikepala para pengusaha tsb untuk alih teknologi. Jika mereka menolak pemerintah Tiongkokpun hanya bisa gigit jari. Apa yang dilakukan pemerintah Tiongkok adalah memberikan tawaran bisnis diatas meja kemudian membuka posisi, take it or leave it, itu saja. Namun faktanya tawaran itu sangat menarik sehingga para pengusaha dan investor berbondong-bondong ke Tiongkok.
Proses transaksi pemerintah Tiongkok dengan para pengusaha dapat digambarkan sbb: "Kami membutuhkan modal dan teknologi anda. Sebagai gantinya, kami sediakan: 1. Lokasi dan fasilitas industri yang prima dengan biaya murah. 2. Tenaga kerja yang memiliki kemampuan prima, etos kerja tinggi dan fleksible. 3. Kepastian hukum dan perlindungan atas fasilitas industri dari penjarahan dan kerusuhan. 4. Akses ke pasar dalam negeri dengan 1.4 milyar penduduk. 5. Akses ke pasar negara-negara Belt & Road hingga Afrika dan Eropa dengan biaya kirim hanya 50% dari harga umum dan waktu pengiriman yang jauh lebih cepat - untuk ekspor ke Eropa dari land-port Yiwu dengan kereta api hanya butuh 2 minggu - jika dengan kapal lewat selat Malaka butuh 2 bulan. Biaya hanya 50% dari pengiriman dengan kapal" (Charles Duhigg & Keith Bradsher." How the US Lost Out in iPhone Work." The New York Times, January 21, 2012; Henry Blodget."This Article Explain Why Apple Makes iPhone in China and Why the US is Screwed." Business Insider, January 22, 2012).
Dengan fasilitas yang begitu prima dan tingkat keuntungan di depan mata begitu tinggi. Mana ada pengusaha yang begitu tolol mau berbondong-bondong meninggalkan Tiongkok? Sekalipun demi nasionalisme? Sekalipun atas perintah Trump? Mereka tahu dan sadar bahwa Tiongkok tidak fair dan mengambilalih teknologi mereka, namun mereka tidak peduli (Kenneth Rapoza." US Companies: China Unfair, But We Don't Really Care." Forbes, August 30, 2019.).
Comments
Post a Comment